Hati-hatilah pada musuh yang selalu mengintaimu, Syaiton..
Jangan mudah minta cerai bagi perempuan, dan jangan mudah menceraikan bagi laki-laki..
Apa sebabnya?
Dalam hadits bukhari Nabi S.A.W bersabda, iblis memiliki singgasana di lautan. Setiap hari anak cucunya melapor : “Saya baru buat orang mabuk” “Saya baru buat orang dusta” “Saya baru buat orang zina”, sama iblis dianggap biasa semua. “Ya sudah” “Ya sudah” “Ya sudah”. Pas ada anak cucu iblis melapor, “Saya baru menceraikan suami istri” sama iblis langsung diangkat, lalu didudukan dia di singgasananya.
Berhenti tugas, yang penting sudah rusak satu rumah tangga cerai, itu sudah satu prestasi paling tinggi yang dikejar oleh iblis. Rusaknya rumah tangga, ributnya suami istri akan mengacaukan seluruh masyarakat. Karena kalau ribut saja suami istri, sudah cukup bikin satu keluarga ikut ribut. Lingkungan teman-temannya ikut ribut, pro-kontra. Kalaupun terjadi cerai anak-anaknya akan kacau kejiwaannya, semua akan merasa terpukul secara kejiwaan.
Mau ketemu ayahnya, ibunya ga kasih, mau ketemu ibunya, ayahnya ga kasih, dan seterusnya. Jadi memang cerai itu target utama iblis. Makanya hati-hati.
Kata para ulama, kalau di luar rumah ada lima syaiton atau sepuluh syaiton mendampingi seorang beriman, mencarai untuk menggodanya. Maka dalam rumah tangga ada seribu syaiton. Kadang-kadang masalah kecil, mungkin si suami bisa tersinggung hanya karena lupa dibuatin teh atau kopi. Atau mungkin ada yang si suami minta istrinya kerjakan, lalu istrinya lupa. Sudah cukup bikin marah suami ke istri.
Seorang istri sudah cukup untuk marah ke suami, hanya karena minta diantar ke suatu tempat, suaminya belum sempat karena ada kesibukan. Akhirnya tersinggung, “Kalau ibumu kau dahulukan, kalau aku tidak?” Panjang deh ceritanya. Bisa muncul kalimat minta diceraikan. Hati-hati.
Kata Nabi S.A.W, pernikahan, perceraian dan rujuk (kembali setelah cerai). Ini ga boleh main-main. Makanya mengapa kata-kata cerai itu adanya di laki-laki bukan di perempuan, hikmahnya kata para ulama kalau mau menceraikan masih mau berpikir, “Ini ke depannya bagaimana, ini nanti bagaimana, anak bagaimana.” Panjang mikirnya.
Kalau perempuan tidak, “Pokoknya ceraikan saja, saya tidak mau tahu!” Besok apa yang terjadi urusan nanti. Padahal kalau udah diceraikan pergi ke rumah orang tua nyesel juga nanti. Jadi masalah juga, nah banyak orang begitu. Hukum Syar’i, baik suami maupun istri gak boleh main-main mengeluarkan kata-kata cerai.
Kecuali darurat sekali baru diucapin kalimat itu. Betul-betul patokannya adalah pelanggaran agama, kalau pasangan kita berbuat maksiat kepada Allah, dan kita ajak taubat ga mau, nah ini. Di sini kita boleh gunakan kalimat mulia itu.
Kalau hanya urusan dunia, kurang pendapatan, masih butuh pengaturan waktu, adaptasi keluarga, tradisi keluarga. Mudahkanlah! Urusan dunia! Memaafkan itu jauh lebih baik..
Selama urusan dunia, makanan, baju, warna seprai, gorden, rumah tinggal, dunia! Ga ada yang dibawa ke kuburan. Misal kita bangga perkara rumah, “Ini rumah yang di menteng hebat, megah..” Saudaraku sehebat apapun rumah kita, kalau dilihat dari atas pesawat, keliatan kecil itu.. Apa yang mau diperebutkan gitu? Kadang-kadang ini adalah hal mendasar yang harus kita fahami. Hati-hati syaiton selalu mengintai.
Maka syaiton kata para ulama lebih senang, suami istri bercerai daripada terjadi pembunuhan di luar rumah. Daripada orang zina.. Padahal ini dosa-dosa berat semua ini. Tapi kalau cerai ini luar biasa, si suami dan istri akan sakit kepalanya, hidup tidak tenang, anak jadi korban. Gak ada orang cerai bahagia. Omong kosong itu. Allah sudah satuin dalam kalimat akad, kalau ada masalah-masalah dihadapin.. Selama bukan pelanggaran agama, toleransi maafin.
Silakan share jika dirasa bermanfaat..
Sumber : Lampu Islam Youtube Channel
*****

0 komentar:
Posting Komentar