Jumat, 03 Maret 2017

Doa Meminta Penjagaan dari Allah pada Seluruh Sisi

BY Unknown IN , , , , No comments

Doa Meminta Penjagaan dari Allah pada Seluruh Sisi

Doa Meminta Penjagaan dari Allah pada Seluruh Sisi
Disunnahkan untuk membaca doa pagi petang yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam guna memohon penjagaan dari Allah pada seluruh penjuru:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
“Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu ‘afiat (keselamatan dari segala keburukan) di dunia dan di akhirat.Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu pemaafan dan ‘afiat pada agamaku dan kehidupan duniaku, keluarga, dan hartaku.Ya Allah tutuplah aurat-auratku, berikan rasa aman padaku. Ya Allah jagalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dari atas, dan aku berlindung pada keagunganMu agar aku tidak tersambar dari bagian bawahku.” (H.R Abu Dawud)
Beberapa Contoh Penjagaan Allah dalam Kehidupan Dunia
Barangsiapa yang menjaga Allah, menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan di masa muda, Allah akan menjaga badannya di masa tua. Abu  Thoyyib at Thobary yang berusia melewati 100 tahun masih memiliki kekuatan yang luar biasa. Pernah suatu ketika ia melompat dari perahu ke tepi daratan, sehingga orang-orang di sekelilingnya mengkhawatirkan keadaanya yang sudah tua. Tapi beliau mengatakan :Tubuhku ini aku jaga dari kemaksiatan sejak muda, sehingga Allah menjaganya ketika aku sudah tua. (Dalam Jaami’ul Uluum wal Hikaam (1/186)).
Para ulama dikenal kuat menjaga hafalan, pemahaman, dan kefaqihannya di usia yang sudah sangat tua, terhindar dari kepikunan, di saat orang-orang lain seusianya sudah banyak yang lupa bahkan tidak mengenal lagi anak-anak dan orang terdekatnya.
Suwaid bin Ghoflah –salah seorang tabi’i yang pernah mengambil ilmu dari Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali- masih kuat hafalannya dan menjadi imam pada sholat tarawih di bulan Romadhan pada saat usianya sudah 120 tahun (Riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ (4/175).
Harta kedua anak yatim dijaga Allah melalui perbuatan Nabi Khidhr yang menegakkan dinding rumahnya yang miring, sedangkan di bawah dinding tersebut terdapat simpanan harta mereka (Qur’an surat al-Kahfi ayat 82). Nabi Khidhir menyatakan bahwa ayah kedua anak yatim itu adalah orang yang sholeh. Para ulama menjelaskan bahwa inilah bukti bahwa keshalehan dan ketakwaan dari seseorang menjadi sebab Allah akan menjaga dirinya dan keturunannya.
Tentang kasus pagar halaman sebuah rumah itu adalah milik dua anak laki-laki yatim di negeri itu.Di bawah pagar rumah itu ada harta simpanan berharga milik kedua nak itu. Dahulu ibu bapaknya adalah orang-orang shalih. Tuhanmu ingin agar kedua anak itu mencapai umur dewasa, dan keduanya dapat mengeluarkan harta simpanan berharga itu sebagai rahmat dari Tuhanmu.Aku melakukan semua itu bukan karena kemauanku sendiri (QS. Al Kahfi (18) : 82).


Wasiat dan Pesan Penting Nabi

BY Unknown IN , , , , No comments

Wasiat dan Pesan Penting Nabi

Jagalah Allah
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].
Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah.Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi). (dari Syarh Hadits Ke-19 Arbain an Nawawiyyah)
Makna ‘menjaga Allah’ dalam hadits di atas adalah menjaga hak-hak Allah, perintah-perintah, dan larangan-laranganNya.Karena Allah sendiri tidak butuh dengan penjagaan siapapun, bahkan Dialah yang Menjaga seluruh makhluk di alam semesta.
Hak Allah yang paling pertama harus dijaga oleh seorang hamba adalah tauhid.Tauhid adalah penentu utama seseorang untuk masuk surga atau neraka. Hal yang pertama dinilai adalah: apakah ia mensekutukan Allah (berbuat syirik) atau tidak, sesuai dengan hadits:
مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah tidak mensekutukanNya dengan suatu apapun, maka ia masuk Jannah (surga). Barangsiapa yang bertemu denganNya mensekutukanNya dengan sesuatu, maka ia masuk anNaar (neraka).” (H.R Muslim).
Di antara hak-hak Allah yang paling agung yang wajib dijaga oleh seorang hamba adalah memurnikan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya?”Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.” (HR. Bukhari: 2856 dan Muslim: 48)…
Jagalah tauhid (keimanan) dari kemusyrikan (selingkuh dengan Allah SWT), niscaya Allah akan menjaga kita agar tidak terjerumus ke neraka.
مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
… Barangsiapa yang mensekutukan Allah, maka Allah haramkan baginya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka… (Q.S al-Maidah (5) :72)..
Setelah tauhid, penentu berikutnya adalah jagalah syariat (sholat). Jika baik sholatnya, maka akan baik seluruh amalannya.

Jagalah shalat, niscaya Allah akan menjaga kita
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يكُنْ لَهُ نُورٌ ، وَلاَ بُرْهَان ، وَلاَ نَجَاة وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ ، وَفِرْعَونَ ، وَهَامَانَ ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ
“Barangsiapa yang menjaganya (sholat) maka ia akan memiliki cahaya, penjelas, dan keselamatan dari anNaar pada hari kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaganya, ia tidak akan memiliki cahaya, penjelas, dan keselamatan dan pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama Qarun, Firaun, Haaman, dan Ubay bin Kholaf.”  (H.R Ahmad)
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kita di dunia dan di akhirat
Jaga larangan-larangan Allah jangan dilanggar, dan jaga perintah-perintahNya jangan ditinggalkan. Demikian juga termasuk dalam upaya menjaga Allah adalah menjaga lisan dari segala bentuk kedustaan, perkataan kotor, adu domba, menggunjing, dan menjaga kemaluan serta menundukkan pandangan.
Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda;
“Jika kalian bisa menjamin enam hal, maka aku akan jamin kalian masuk surga: [1] Jujurlah dalam berucap; [2] tepatilah janjimu; [3] tunaikanlah amanatmu; [4] jaga kemaluanmu; [5] tundukkan pandanganmu; [6] dan jaga perbuatanmu.” (HR. Al Hakim:8066 dan Ibnu Hibban: 107)

PESAN-PESAN ISLAM KEPADA GENERASI MUDA

BY Unknown IN , , , No comments

PESAN-PESAN ISLAM KEPADA GENERASI MUDA

(Oleh: DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A hafidzohulloh)



.
PESAN-PESAN ISLAM KEPADA GENERASI MUDA
Oleh: DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
Disampaikan Dalam Tabligh Akbar
Di Masjid Kampus  STIS Jakarta

PENDAHULUAN
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus kepada kita NabiNya yang terpercaya dan menurunkan kepadanya KitabNya yang paling mulia, serta menjadikan kita sebaik-baik umat manusia. Selawat beserta salam kita ucapkan untuk Nabi kita Muhammad r yang telah melakukan perubahan terhadap tatanan kehidupan umat manusia. Dari kehidupan yang penuh dengan kezaliman kepada kehidupan yang berkeadilan. Dari kehidupan yang penuh dengan keterbelakangan dalam budi pekerti kepada kehidupan yang berbudi pekerti mulia. Di antara perjuangan beliau yang agung adalah memperbaiki kondisi generasi muda yang terjerumus kedalam berbagai bentuk maksiat dan kemungkaran. Beliau menyelamatkan generasi muda dari berbagai bentuk tindakan asusila, mulai dari pergaulan bebas , obat-obat terlarang, premanisme, pengangguran dan lain-lain.
Maka dalam kesempatan yang terbatas ini kita mencoba untuk mengkaji salah satu bentuk perjuangan belaiu dalam menciptakan perubahan dalam kehidupan generasi muda.
Dengan tema "Pesan-Pesan Islam kepada Generasi Muda".
Generasi muda adalah kekuatan sekaligus keabanggaan suatau umat dan negara. Untuk mengetahui nasib masa depan sebuah umat atau sebuah bangsa adalah dengan melihat generasi muda saat ini. Bila generasi mudanya baik, maka masa depan umat dan bangsa tersebut adalah baik. Sebalik bila generasu mudanya rusak maka masa depan umat dan bangsa tersebut adalah suram.
Karena itu bila kita cermati gerakan musuh-musuh Islam dalam menghancurkan sebuah bangsa dan umat adalah dengan merusak generasi mudanya terlebih dulu. Bila generasi muda sebuah umat atau bangsa rusak maka untuk menghancurkan umat dan bangsa tersebut tidak perlu dengan kekuatan senjata dan angkatan perang. Inilah yang dipesankan oleh Napolion Bonaparte kepada para pasukkan perang salib ketika mereka umat Islam menangkapnya dalam sebuah penyerang salibiyah kenegeri Mesir. Bahwa umat Islam tidak mungkin dilawan dengan kekuatan senjata, akan tetapi dengacara Gazwulfikri (perang pemikiran).

Tujuan Pembahasan:
Tujuan pembahasan ini adalah sebagai untaian nasehat kepada generasi muda Islam, kepada para orang tua mereka, tenaga pendidik, organisasi-organisasi pemuda serta lembaga-lembaga yang berkepentingan dalam membina genarsi muda, secara khusus lemabaga-lembaga pendidikan, baik yang formal maupun non formal.

Pesan-Pesan Islam Kepada Generasi Muda
Generai muda kita berada dalam ancaman bahaya.
Dunia informasi dan telekomunikasi yang canggih telah membuat sebagian generasi muda kita terombang-ambing dalam berbagai arus globalisasi pemikiran dan kemaksiatan. Karena kemajuan informasi dan telekomunikasi tersebut tidak dibarengi dengan kemajuan pemahaman keagamaan dan pendidikan moral. Sehingga nilai-nilai negatif dari arus globalisasi sangat mudah menenggelamkan generasi muda ke dalam lautan kesesatan dan kemasiatan yang tidak bertepi. Para penjaja kesesatan dan kemaksiatan menawarkan dagangan mereka melalui berbagai media informasi dan telekomunikasi. Banyak generasi muda kita yang tergiur dan tertipu dengan slogan-slogan pedagang kesesatan dan kemasiatan tersebut. Tanpa disadari mereka telah terjerumus kedalam berbagai lembah kehinaan dan kenistaan. Ada bermacam lembah terjal dalam dunia generasi muda saat ini, diantaranya:
  1. Lembah sex bebas dan pergaulan bebas sejenis seperti lesbian dan homosex.
  2. Lembah narkoba dan obat-obat terlarang sejenis.
  3. Lembah kekerasan dan pelanggaran moral sejenis.
  4. Lembah pemikiran sesat seperti terorisme, skulerisme, liberalisme dan kesesatan sejenis
Pendek kata genarasi muda saat ini harus waspada dengan dua bahaya; bahaya syahawat dan bahaya syubuhat.
Tiada jalan lain untuk menyelamatkan generasi muda dari dua ancaman bahaya di atas kecuali dengan menyampaikan pesan-pesan Islam kepada generasi muda. Berikut ini kami kemukakan beberapa pesan untuk generasi muda:

1. Menuntut ilmu agama dan giat beribadah
Pentingnya pendidikan agama bagi generasi muda
Pemuda adalah unsur terpenting dalam sebuah negara, untuk melihat maju atau mundurnya suatu negara bisa kita lihat melalui tingkat keilmuan dan keimanan generasi muda negara tersebut.
Oleh sebab itu Islam sangat memperhatikan pendidikan agama bagi generasi muda, baik dari segi keilmuan maupun keimanan.
Dalam segi keimanan, Allah telah memberikan contoh dalam kitab Al Quran yang mulia dengan kisah pemuda Ashabul Kahfi, bagaimana mereka tetap kokoh dalam mempertahankan keimanan di saat kaum atau bangsa mereka telah dilanda oleh kerusakan moral dan keimanan. Keadaan tersebut memaksa mereka untuk menjauhi kaum mereka yang telah rusak. Di saat kemampuan untuk memperbaiki tidak lagi mereka miliki, Allah memberikan pertolongan untuk menyelamatkan mereka dari ancaman kaum yang membenci mereka, sehingga mereka tertidur dalam gua (Kahfi) selama tiga ratus tahun.
Allah memuji mereka dalam firmanNya:
{إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا {10}
إلى قوله   {إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى {13}
“Ingatlah ketika para pemuda mencari tempat perlindungan kedalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).
Sampai kepada firman Allah; “Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”.
Dalam ayat yang mulia ini, Allah mengisahkan perjuangan para pemuda dalam mempertahankan keimanan mereka dalam keadaan yang amat sulit di tengah-tengah kaum mereka. Mereka terusir dari tengah-tengah kaum mereka, tapi mereka konsekwen dengan keimanan mereka sehingga Allah memberikan rahmat dan petunjuk kepada mereka dalam keadaan yang amat sulit tersebut.
Allah mengabadikan kisah mereka sebagai ibroh bagi para pemuda setelah mereka,  dimana kerusakan yang terjadi dalam kaum mereka tidak menggoyahkan keimanan mereka.
Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas:
 “Al fityah adalah para pemuda, mereka (para pemuda) adalah orang yang lebih mudah untuk menerima kebenaran serta mengikuti jalan petunjuk dibandingkan orang yang sudah lanjut usia yang telah dimakan usia dan lenyap terjerumus dalam agama yang batil. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan RasulNya r adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari suku Quraisy kebanyakan tetap kekal di atas agama nenek moyang mereka, tidak ada yang memeluk Islam kecuali sedikit, demikian pula yang Allah ceritakan tetang Ashabul Kahfi bahwa mereka adalah para pemuda”. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/74).  
Ashabul kahfi adalah salah satu bentuk generasi muda yang tidak terpengaruh oleh zaman yang dilanda kerusakan iman dan moral. Demikian halnya para anbiya' seperti nabi Ibrohim, nabi Musa dan nabi kita Muhammad r. Mereka tegar dalam memegang kebenaran dan berjuang untuk melakukan perubahan terhadap zaman mereka. Mereka tidak terbuai denga sepoi angin kesesatan dan kemaksiatan.
Mengisi masa muda dengan segala aktivitas baik keilmuan maupun keimanan telah dipesankan oleh Rasulullah r dalam sabda Beliau:
((اغْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ
وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ))
“Pergunakanlah yang lima sebelum datang masa yang lima; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu”. (HR Hakim no 7846).
Dari hadits ini dapat kita simpulkan betapa pentingnya masa muda untuk dipergunakan untuk segala hala yang positif. Karena dimasa muda keadaan tubuh seorang manusia dalam masa yang sangat sempurna dalam segala hal, baik dari segi fisik maupun kekuatan inteligensia, begitu juga dalam hal menghadapi tantangan dan rintangan.
Maka selayaknyalah para generasi muda untuk benar-benar menyadari betapa penting usia muda mereka. Bahwa usia muda adalah saatnya untuk menggali dan menggembangkan segala potensi diri dalam menyacari ilmu dan pengalaman yang sesungguhnya, baik hal duniawi maupun ukhrawi.
Pemuda yang membina pengalaman spritualnya dengan penuh keimanan merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan dari Allah pada hari kiamat di Padang Mahsyar, di saat jarak matahari dengan kepala manusia  hanya sejengkal.
Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah r dalam sabda Beliau;
((سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ الله ُفي ظِلِّهِ يَوْمَ لاظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ اْلإمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌ نَشَأَ بِعِبادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في الْمَسَاجِدِ وَرَجُلانِ تَحَاباَ في اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إنِّي أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَى لاَ تَعْلَمُ شِمَالهُ ُمَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ))
“Ada tujuh golongan, Allah menaungi mereka di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya; Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan penuh ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling berkasih-sayang di jalan Allah, keduanya bertemu karena-Nya dan berpisah karena-Nya, dan laki-laki yang diajak oleh wanita bangsawan lagi cantik (untuk melakukan maksiat), maka ia menjawab: Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan laki-laki yang bersedekah lalu disembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya dan laki-laki yang mengingat Allah di kesunyian (malam) sampai ia meneteskan air mata”. (HR Al Bukhary no 629 dan Muslim no 1031).   
Dalama hadits tersebut terdapat motifasi yang sesungguhnya bagi para pemuda untuk membina diri mereka dalam ilmu dan pengalama spritualnya.
Amirulmukminin Umar bin Khatab t berkata;          (تَفَقَّهُوْا قَبْلَ أَنْ تَسُوْدُوْا)
“Hendaklah kamu berilmu sebelum kamu memimpin”.
Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok, baiknya masa depan suatu masyarakat dapat kita lihat bagaimana generasi muda mereka hari ini?
Ilmu yang sangat penting untuk dimiliki pemuda adalah ilmu keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt, karena keimanan dan ketakwaan adalah kompas penunjuk arah dalam segala situasi dan kondisi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bila situasi dan kondisi masyarakat dalam keadaan melarat dan miskin hal tersebut akan dihadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah, tanpa melanggar norma-norma agama. Apabila situasi masyarakat dalam keadaan berkecukupan hal tersebut akan memotivasi mereka untuk bersyukur dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan agama, mereka akan terhidar dari sikap mubazir, berpoya-poya serta hura-hura.

2.  Mebekali diri dengan berbagai keterampilan
Banyak generasi muda kita setelah menyelesaikan pendidikan menjadi pengangguran dan menjadi beban masyarakat. Mereka sering terkendala dalam memperolah lapangan pekerjaan. Hal itu disebabkan karena minimnya keterampilan yang mereka miliki. sehingga banyak pekerjaan di negeri ini dikerjakan oleh tenaga asing. Apa lagi untuk bersaing dalam mendapat pekerjaan di luar negeri, mereka lebih tidak siap lagi bila dilihat dari segi skil, keterampilan dan pengalaman. Pada hal amat banyak pula lapangan pekerjaan di luar negeri terutama di negara-negara timur tengah, secara khusus tenaga medis dan eletro.
Kelemahan yang mendasar dari tenaga skil negara kita adalah terkendala dari segi bahasa. Akibatnya gaji tenaga kerja kita di luar negeri di bawah gaji tenaga kerja Pilipina.
Hal tersebut dilatar belakangi oleh rasa kecemburuan terhadap hal yang benuangsa Islam sangat besar dari kalangan kaum skuler di negara ini. Hal ini terbukti dari segi pengajaran bahasa arab di sekolah dan peguruan tinggi umum tidak mendapat peluang dan perhatian setara dengan bahas inggris.
Ditambah lagi sistem pendidikan kita kurang memperhatikan pasar lapangan pekerjaan. Seperti metode pengajaran bahasa inggris di sekolah-sekolah, tidak sebagus yang ada di tempat-tempat kursus. Buktinya orang yang belajar bahasa inggris melalui kursus 3 bulan lebih baik dari siswa yang sudah belajar bahasa inggris melalui pendidikan formal 3 tahun. 
Maka kepada generasi muda kami pesankan bekalilah di anda dengan berbagai keterampilan dan pengalaman. Sesungguhnya pekerjaan rendahan bila dikerjakan dengan profesional akan menghasilakan karya berkuwalitas tinggi. Jangan gengsi melakukan pekerjaan-pekerjaan rendahan sekalipun, seperti berternak, bertani atau menjadi buruh.
Sebagaimana Rasulullah r di masa kecilnya demikian pula para Nabi yang lainnya bekerja sebagai pengembala kambing dalam rangka mendapatkan pengalaman
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ r بِمَرِّ الظَّهْرَانِ وَنَحْنُ نَجْنِى الْكَبَاثَ فَقَالَ النَّبِىُّ r «عَلَيْكُمْ بِالأَسْوَدِ مِنْهُ». قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ رَعَيْتَ الْغَنَمَ قَالَ « نَعَمْ وَهَلْ مِنْ نَبِىٍّ إِلاَّ وَقَدْ رَعَاهَا ». متفق عليه.
Dari Jabir berkata: Suatu hari Kami bersama Nabi r di "Marri dzohron" sedang memanen buah Arak, maka Nabi r bersabda: "Pilihlah yang paling hitam" kami mengatakan : "Wahai Rasulullah, sepertinya engkau pernah mengembala kambing?" Beliau menjawab: "Ya. Tidak ada seorang nabipun kecuali pernah mengembala kambing" [HR. Bukhari Muslim]
Rasulullah r tidak pernah berhenti membekali dirinya dengan pengalaman hidup. Setelah menginjak usia remaja beliau membantu pamannya dalam berdagang ke Syam. Kemudian di usia dewasa beliau mengambil upah dari menjualkan dagangan Khadijah. Sebagaimana hal tersebut di kemukakan oleh para ulama yang menulis sejarah kehidupan beliau.

3. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia
Ada banyak sifat yang semestinya tidak layak bagi seorang terpelajar, apalagi seorang muslim. berbagai penyimpangan (dekadensi) moral di tengah para pelajar banyak terjadi, seperti kebiasaan suka berdusta, dengki dan khianat serta tidak menghormati orang yang lebih tua, begitu juga kebrutalan dan banyak lagi sifat-sifat tercela yang mewarnai tingkah laku para generasi muda sehari-hari yang tidak mungkin untuk  kita uraikan satu persatu disini.
Disamping itu berbagai kasus bunuh diri yang terjadi dikalangan pelajar. Belakangan ini dunia pendidikan kita juga mendapat tantangan baru, yaitu maraknya kejahatan bunuh diri dikalangan para pelajar. Kalau hal ini tidak di atasi secara serius, akan berdampak negatif sekali kepada kehidupan generasi muda kita.
Islam sangat memperhatikan pendidikan umatnya terutama generasi muda untuk berakhlak mulia. Sebagaimana Rasulullah r di masa muda beliau di gelari Al Amiin (orang terpercaya) oleh orang kafir Quraisy. Karenanya Allah memuji Akhlak Rasulullah r dalam firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [القلم/4]
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung". 
Bahkan Rasulullah r menegaskan dalam sabda beliau tentang tugas belaiu di utus menjadi rasul:
((إنما بعث لأتمم مكارم الأخلاق)) رواه في الموطأ وصححه الشيخ الألباني في "الصحيحة" (45).
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".
Demikian pula halnya orang tua para ulama terkemuka dalam memulai pendidikan anak-anak mereka. Sebagaimana orang tua imam Malik mengirim anaknya kepada Rabi'ah untuk belajar akhlak yang mulia sebelum menuntut ilmu.
Namun berbeda dengan generasi muda saat ini, mereka menjadikan figur dan idola mereka orang-orang yang jauh dari berakhlak mulia, apakah itu bintang film, penyanyi, bintang bola dan seterusnya.
Pada hal mentauladani mereka tidak sedikitpun membawa manfaat untuk mereka di dunia apalagi di akhirat kelak. Wahai generasi muda contolah orang yang paling mulia pribadinya dan paling agung akhlaknya yaitu Nabi Muhammad r. Allah berfirman:
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب/21]
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". 
Sepatutnya generasi muda kita menjadi kebanggaan bagi orang tua, masyarakat dan negara dalam akhlak mereka sehari. Berakhlak di rumah, di kampus dan sekolah, di jalan dan dimanapun mereka berada dan terhadap siapapun saja baik terhadap orang tua, terhadap dosen dan guru, terhadap sesama teman dan masyarakat.

4. Menghindari pergaulan bebas dan obat-obat terlarang
Maraknya pergaulan bebas dan pornografi dalam kehidupan para generasi muda. Hal ini boleh dikatakan yang sangat menonjol dikalangan generasi muda di samping penggunaan obat-obat terlarang, serta adanya sebagian siswi yang menjadi penjaja sex bebas. Kehidupan siswa sehari-hari selalu dihadapkan dengah hal-hal yang memicu dan mengacu kepada persoalan pornografi dan sex bebas, mulai dari sistem belajar yang bercampur antar pelajar pria dan wanita, pakaian sekolah yang dapat mengumbar birahi, bacaan dan tontonan yang mereka nikmati sepanjang hari, sampai sampul bukupun tak luput dari menampilkan foto-foto porno. Maka tidak salah bila sebagian orang berkata bahwa kebiasaan muda-mudi kita serba porno; pakain porno, omongan porno, bacaan porno, tontonan porno.
Disamping itu Maraknya Penggunaan obat-obat terlarang (ganja, heroin, ekstasi, putaw dll). Penggunaan obat-obat terlarang adalah merupakan ancaman yang amat serius bagi generasi masa depan bangsa, yang sebagian besar pelakunya adalah generasi muda dan para pelajar.
Berikut ini kita sebut bebrapa ayat dan hadits untuk mengatisipasi pergaulan bebas:
Larangan mendekati hal-hal yang membawa kepada perbuatan zina
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء/32]
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk". 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -r- قَالَ « كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ » رواه مسلم.
Dari Abu hurairah t dari nabi r beliau bersabda: "Telah ditetapkan tehadap anak Adam bagianya dari zina, ia mendapai hal itu tanpa bisa mengelak. Zina kedua mata adalah pandangannya, zina dua telinga adalah pendengarannya, zina lidah adalahbicaranya, zina tangan adalah rabahannya, zina kaki adalah langkahnya, hati berkehendak sedangkan kemaluan yang membuktikan hal itu atau mendustakannya". (H.R. Muslim)
Perintah menjaga pandangan terhadap yang bukan mahram
{قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ} [النور/30، 31]
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya". 
Larangan menyerupai lawan jenis
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: لعن النبي r المخنثين من الرجال والمترجلات من النساء وقال (أخرجوهم من بيوتكم). رواه البخاري
Dari Ibnu AbbasRadhiyallahu 'anhuma mengatakan : "Nabi r melaknat laki – laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki – laki "
Larangan berduan dengan lain jenis yang bukan mahram
Rasulullah r bersabda:
عن عقبة بن عامر : أن رسول الله r قال ((إياكم والدخول على النساء)) فقال رجل من الأنصار يا رسول الله! أفرأيت الحمو ؟ قال الحمو الموت)) رواه الترمذي وقال: حسن صحيح.
Dari uqbah bin Amir, bahwasanya Rasulullah r bersabda Janganlah kalian memasuki wanita. Maka seorang laki–laki dari Anshar bertanya: " Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu  tentang ipar? Beliau menjawab: "Ipar adalah maut (bahaya)." [HR. tirmidzi]
Beliau bersabda lagi:
((لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان)) رواه الترمذي، وقال الشيخ الألباني : صحيح
"Tidaklah seorang laki-laki berduan dengan perempuan kecuali setan yang ketiganya".
Larangan melihat aurat sesama jenis dan tidur dalam satu selimut
عن أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ t أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ « لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ ». رواه مسلم.
Dari abu Sa'id Alhudrit bahwasannya Rasulullah r  bersabda: "Janganlah seorang laki-laki melihat  aurat lak-laki lain demikian pula halnya dengan perempuan. Dan jangan lah seorang laki-laki bersama dengan laki-laki lain dalam satu selimut, demikian pula halnya dengan perempuan."
Perintah menutup aurat
Allah berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} [الأحزاب/59]
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Perintah untuk menikah bagi yang sudah memiliki kemampuan materi
Rasulullah r bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ t قَالَ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ r «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ». متفق عليه
Dari Abdillah mengatakan: "Rasulullah bersabda: Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang sudah mapu untuk menikah, maka hendaklah menikah, sesungguhnya hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Dan bagi siapa yang belum sanggup hendaklah berpuasa, sesungguhnya hal itu akan membentenginya" [HR. Bukhari dan Muslim]
Adapun dalil-dalil yang mengharamkan mengkosumsi obat-obat terlarang diantarayna:
Rasulullah r bersabda :
 «وَإِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ». رواه أبو داود وصححه الشيخ الألباني.
"Sesungguhnya saya melarang kalian dari setiap yang memabukkan" [HR. Abu Dawud, Shahih]
Beliau bersabda lagi:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ «كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ». متفق عليه.
Dari Ibnu Umar t bahwa Rasulullah r bersabda: "Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram". (H.R. Bukari-Muslim). 

5. Menghormati penguasa dan memuliakan ulama
Ancaman lain terhadap generasi muda adalah ancaman bahaya syubuhat (pemikiran). Seperti pemahaman yang eksrim dalam beragama, atau pemahaman sekuler, liberal dan aliran-aliran sesat lainnya. Bahkan tidak jarang generasi muda menjadi sasaran utama rekrukmen para kelompok terorisme dan kelompok liberalisme. Cara yang sering ditempuh oleh para aliran sesat dalam menebarkan pemikiran mereka kepada generasi muda adalah dengan menjatuhkan kehormatan penguasa dan ulama terlebih dahulu di mata generasi muda. Sehingga dengan demikian mereka para pelaku aliran sesat dengan mudah untuk mempengaruhi generasi muda. Dikala kehormatan penguasa telah dijatuhkan, dengan demikian para pelaku kesesatan bisa lari dari jeratan hukum. Dan apabila umat telah dijauhkan dari ulama, maka umat tidak lagi mendengarkan nasehat-nasehat ulama, lalu umat akan kehilangan pegangan, maka mereka pelaku aliran sesat memfaatkan situasi dengan bebas menyebarkan pemikiran sesat mereka di tengah masyarakat. Oleh sebab itu Islam sangat memperhatian kedudukan penguasa dan kehormatan ulama.
Perintah menghormati penguasa dan ulama
Rasulullah r bersabda:
وعن عبادة بن الصامت t أن رسول الله r قال"ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه " رواه أحمد والطبراني الحاكم (إسناده حسن كما في تخريج الترغيب)
Dari Ubadah bin Shamit, bahwasannya rasulullah bersabda "Bukan darikami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dan tidak mengetahui haq orang berilmu" [HR. Ahmad, Hasan]
Dan lafazt yang lain berbunyi:
عوَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو t عَنِ النَّبِىِّ r قَالَ «مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا». رواه أبو داود والترمذي وقال الشيخ الأباني: صحيح.
Dari Abdullah bin 'Amru t dari Nabi r beliau bersabda: "Barangsiapa yang tidak mengasihi orang kecil kami dan tidak mengenal hak orang dewas kami maka ia bukan dari golongan kami". 
Larangan berprilaku eksrim dalam agama
قال بن عباس قال لي رسول الله r: ((يا أيها الناس إياكم والغلو في الدين فإنه أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين)). رواه النسائي وابن ماجه وقال الشيخ الألباني : صحيح.
Ibnu Abbas berkata: Rasulullah r bersabda "Wahai sekalian manusia! Janganlah kalian melampaui batas dalam beragama. Sesungguhnya penyebab kehancuran umat sebelum kalian adalah berlebi-lebihan  dalam beragama" [HR.An Nasai dan Ibnu Maah, dan dishahihkan syaikh Albani]
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ t قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r «هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ». قَالَهَا ثَلاَثًا. رواه مسلم
Dari Abdullah bin Mas'ud t ia berkata telah bersabda Rasulullah r: "Binasalah orang yang berlebih-lebihan". (H.R. Muslim).

6. Memilih teman yang baik.
Diantara hal yang sering menjerumuskan seseorang kedalam kesesatan dan kemaksiatan adalah teman akrab. Betapa banyak anak-anak baik menjadi anak nakal karena dipengaruhi oleh teman-temannya. Oleh sebab Islam mengajarkan kepada umatnya adab mencari teman. Sebagaimana dipesankan Rasulullah r dalam sabdanya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ r قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ». رواه أبو داود وقال الألباني: حسن.
Dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda : "Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah kalian melihat sipa yang menjadi teman dekatnya" [HR. Abu Dawud]
Kesalahan dalam mencari teman akan membawa penyesalan di akhirat kelak, sebagaimana Allah gambarkan penyesalan orang yang salah dalam mencari teman:
{وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا} [الفرقان/27-29]
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku)".
Perumpamaan teman baik dan teman jelek, teman yang baik akan membawa kebaikan bagi seseorang, sebaliknya teman yang buruk akan membawa keburukkan bagi seseorang.
Sebagaimana sabda Rasulullah r:
عَنْ أَبِى مُوسَى t عَنِ النَّبِىِّ r قَالَ «إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً». متفق عليه.
Dari Abu Musa, dari Nani r beliau bersabda: "Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi adakalanya ia memberimu, adakalanya engkau membeli darinya, setidak-tidaknya engkau mencium bau wangi darinya. Dan pandai besi adalanya pakaianmu terbakar karenanya, dan minimal kamu mencium bau busuk darinya". (H.R. Bukhari Muslim).

7. Mempergunakan waktu dengan sebik-baiknya.
Dunia generasi muda saat ini lebih banyak diisi oleh kegiatan hura-hura dan membuang-buang waktu, pada hal waktu adalah sesuatu yang amat mahal dalam hidup seseorang. Betapa banyak orang menyesal di hari tua karena lalai di hari mudanya. Semasa muda waktunya habis di warnet, di kedai kopi, nongrong di jalanan, atau main gim dan bersenda gurau. Pada hal agama kita memrintahkan kepada umatnya agar mempergunakan waktu sebaik mungkin. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) [العصر/1-3]
"Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran". 
Betapa banyak ayat yang menerangkan tentang waktu dan Allah bersumpa dengan waktu-waktu tersebut. seperti dalam ayat di atas Allah bersumpa dengan waktu asar. Karena waktu asar adalah saat orang menghitung untung rugi yang di alaminya pada setiap hari. Nah pernahkah kita melakukan hal itu dalam perjalanan hari-hari kita?
Rasulullah r bersabda:
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال النبي r ((نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ)) رواه البخاري
Dari Ibnu Abbas mengatakan : Nabi r bersabda : "dua nikmat yang banyak orang melalaikannya, sehat dan waktu luang". [HR.Bukhari]
Dan sabda Rasulullah r:
عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ t أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: "اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ" رواه الحاكم وصححه الشيخ الألباني في صحيح الجامع (1077).
Dari Amr bin Maimun, Rasulullah memberikan nasihat kepada seorang laki – laki : "Mafaatkan lima perkara sebelum lima perkara; masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelu miskin, luang sebelum sempit dan hidup sebelum mati" [HR. Al Hakim]
Dan Rasulullah r bersabda lagi:
وعن معاذ بن جبل t قال قال رسول الله r لن تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع خصال عن عمره فيما أفناه وعن شبابه فيما أبلاه وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه وعن علمه ماذا عمل فيه رواه البيهقي والبزار والطبراني بإسناد صحيح واللفظ له. ( صحيح الترغيب والترهيب - (ج 3 / ص 227)
Dari Mu'azd bin jabal t ia berkata telah bersabda Rasulullah r: "Tidak akan melangkah seseorang pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat hal: tentang umurnya dimana ia habiskan? tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan? tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan? serta tentang ilmu apa yang telah ia amalkan?"
Ibnu Umar pernah berkata:
(إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك). رواه البخاري
"Apabila engkau di sore hari janganlah engkau menunggu pagi dan apabila engkau di pagi hari janganlah engkau menunggu sore.  Ambilah dari masa sehatmu untuk masa sakitmu dan dari masa hidupmu untuk kematianmu".

Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan kita di atas adalah bahwa pemuda butuh kepada:
  1. Kedalaman Spritual
  2. Ketinggian Ilmu
  3. Keluhuran Akhlak
  4. Profesionalisme (Keahlian dan Keterampilan)

Penutup
Demikian yang dapat kami sampaikan, terimakasih atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala kekuarangan, kepada Allah kita mohon pertolongan dan hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

CINTA DAN TAKUT KEPADA ALLAH

BY Unknown IN , , , No comments

CINTA DAN TAKUT KEPADA ALLAH

Cinta dan takut merupakan dua kata yang hati kita tidak akan lepas darinya. Baik ketika kita masih kecil, remaja, dewasa, bahkan ketika sudah tua. Namun terkadang kita masih saja salah mengartikan dan menyalurkan cinta dan takut pada sesuatu yang terlarang dalam agama. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mempelajarinya agar tidak terjatuh pada perkara yang haram. Marilah kita luangkan sejenak waktu, untuk mempelajari sekelumit tentangnya.
Ibadah itu tidak hanya shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, berdzikir, dan lainnya dari ibadah-ibadah anggota badan (lisan dan perbuatan). Di sana masih ada ibadah lain bahkan ibadah yang paling agung yang disebut ibadah qalbiyyah (yang berhubungan dengan hati) seperti sabar, tawakkal, ikhlas, cinta, dan lain-lain. Karena definisi ibadah sebagaimana disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir) (lihat kitab al ‘Ubudiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

Apa itu Cinta?

Makna cinta tidak hanya terbatas kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya makna cinta itu lebih luas dan dalam. Cinta merupakan salah satu sebab yang kuat untuk memulai suatu perbuatan. Demikianlah cinta, ia mampu membangkitkan jiwa, menggerakkan hati dan badan tatkala disebutkan sesuatu yang dicintainya. Namun, dari sekian banyak cinta yang dimiliki seorang manusia, hanya ada dua cinta yang hakiki: [1] mencintai Allah dan ini poros cinta yang semua cinta akan kembali kepada cinta ini, [2] mencintai apa saja yang dicintai Allah. Oleh karena itu, kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan orang-orang shalih, karena Allah mencintai mereka dan Allah pun memerintahkan demikian. Untuk itu Allah menjadikan mencintai saudaranya sesama muslim karena-Nya termasuk satu dari tiga penyempurna keimanan, sehingga orang tersebut akan merasakan lezatnya iman. Sebagaimana kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tiga perkara yang barangsiapa memilikinya, maka dia akan merasakan lezatnya iman, yaitu: [1] Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, [2] mencintai saudaranya karena Allah semata, [3] membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda: “Tidaklah (sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dalam dua hadits ini, Allah melalui lisan Rasul-Nya mengaitkan kesempurnaan iman dengan mencintai sesama muslim karena mereka mencintai Allah.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Cinta karena Allah merupakan buah mencintai Allah. Sebagian ulama mengatakan, ‘Cinta adalah kecocokan hati kepada apa yang dicintai Allah, sehingga dia mencinta apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya.’” [Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim (II/14)]

Cinta yang Bernilai Ibadah

Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Allah. Ketika seorang hamba mencintai Allah, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Allah juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah. Sesungguhnya apabila ditanyakan kepada setiap muslim “Apakah anda mencintai Allah?” maka tentu dia akan menjawab “Tentu saja”. Namun pernyataan tanpa bukti tidaklah bermanfaat. Allah tidak membutuhkan pernyataan belaka. Akan tetapi Dia menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita “Aku cinta Allah”. Oleh karena itulah, Allah menguji setiap muslim dalam firman-Nya (artinya), “Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31). Ya, bukti kecintaan kita kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah dalam segala hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarga. Beliaulah teladan terbaik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21). Oleh karena itu, jika kita mengaku mencintai Allah, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasulullah sebagai panutan kita. Bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya Rasulullah bersabda “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (di hari akhirat nanti).” (HR. Muslim). Makna dari hadits ini adalah jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang shalih (seperti para rasul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka. Dan sebaliknya ketika di dunia kita mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akhirat merupakan seburuk-buruk tempat. Duhai, betapa musibah yang sangat besar!

Makna Takut

Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Allah semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Allah berfirman (artinya): “(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (QS. Al Anbiya: 49)
Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut merupakan sebuah ungkapan dari rasa sedihnya hati disebabkan hal-hal yang dibenci yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Rasa ini berbanding lurus dengan sebab-sebabnya, akan kuat jika sebabnya kuat dan akan melemah jika sebabnya melemah pula”[ Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal 347].

Takut yang Bernilai Ibadah

Takut adalah kondisi psikis yang timbul karena perasaan khawatir tertimpa bahaya atau celaka. Takut sendiri ada bermacam-macam:
  1. Takut yang merupakan tabiat, seperti takut kepada binatang buas seperti ular, harimau, dll dan takut kepada musuh dalam perang, ini semua bukan termasuk takut yang tercela. Hal ini wajar ada dalam diri seseorang apabila dengan sebab yang jelas. Namun hendaknya rasa takut tersebut tidak sampai menyebabkan seseorang meninggalkan ibadah kepada Allah seperti amar ma’ruf nahi munkar atau membuatnya melakukan hal-hal yang dilarang.
  2. Takut kepada sesuatu yang samar sebabnya, seperti berhala ataupun wali dikarenakan khawatir apabila tidak taat pada mereka maka akan terkena tulah atau bala. Sebagaimana perkataan kaum Ad kepada nabi Hud ‘alaihis-salaam “Kami hanyalah mengatakan jika sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila padamu…” (QS. Hud : 54). Mereka berkeyakinan jika sesembahan mereka layak ditakuti karena dapat menimpakan keburukan. Hal ini termasuk bentuk syirik.
  3. Takut dalam rangka ibadah. Rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah, sehingga membuat seseorang menjadi taat serta menjadikan dirinya menjauh dari maksiat. Hal ini termasuk perkara paling wajib yang terkandung di dalamnya keimanan.
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan : “Seseorang yang sudah tidak takut kepada Allah, maka akan mengikuti hawa nafsunya. Terlebih lagi jika sesuatu tersebut gagal untuk diraih. Maka nafsunya akan terus mencari sesuatu yang bisa memuaskan dirinya dan menghilangkan rasa gundah dan kesedihannya. Hal itu karena nafsunya tidak merasa tenang dan terpuaskan dengan berdzikir mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya. Akan tetapi ia merasa tenang dengan hal-hal yang haram dengan berbuat keji, meminum sesuatu yang haram dan berkata dusta.” (dinukil dari Hushulul Ma’mul hal. 76 – 77).

Menumbuhkan Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu ibadah hati yang diperintahkan oleh-Nya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Rasa takut kepada-Nya tidak dapat direalisasikan dengan benar dan sempurna kecuali oleh para ulama Rabbani yang mengenal Allah dengan sebenarnya. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, dan (karena itu) aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya hakekat ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat (atau hafalan), akan tetapi hakikat ilmu ialah apa yang menumbuhkan rasa takut (kepada Allah).” (Lihat al-Fawa’id, hal. 142).
Diantara cara untuk menumbuhkan rasa takut kepada Allah yaitu: [1] mempelajari ilmu untuk mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya, [2] Mengetahui pedihnya siksa Allah dan merasa tidak sanggup menahan siksa-Nya, [3] merasa takut terhalang untuk bisa bertaubat karena sebab dosa yang dilakukannya, dan [4] takut mati dalam keadaan buruk, yaitu mati dalam keadaan bermaksiat pada Allah.

Penutup

Cinta dan takut yang telah disebutkan di atas harus seimbang dalam setiap ibadah seorang hamba. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju tujuan yang ia cintai. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta. Sedangkan rasa takut akan membantunya mencegah keluar dari jalan menuju tujuan yang dicintainya.
Penulis : Muhammad Nashiruddin Hasan, ST (Alumni Ma’had Al’ilmi Yogyakarta)
Murojaah : Ust Abu Salman, BIS

KEESAAN ALLAH

BY Unknown IN , , , , , No comments

KEESAAN ALLAH

Pembaca yang dirahmati Allah. Berbicara konsep ketuhanan, Islam adalah satu-satunya agama yang menanamkan kepada penganutnya konsep ketuhanan yang bersifat tauhidi. Artinya, dalam hal keyakinan (akidah) seorang muslim wajib meyakini bahwa Allah Maha Esa, Esa dalam Zat-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam perbuatan-Nya. Dalam Islam, konsep ketuhanan secara jelas dan tegas dituangkan dalam surat al-Ikhlas, sebuah surat yang ringkas dan sarat akan makna ketauhidan.
Tafsir Ringkas Surat al-Ikhlas
Sebagian ahli tafsir menyampaikan suatu riwayat yang menerangkan bahwa surat ini diturunkan untuk menjawab pertanyaan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal sifat dan nasab Tuhan yang beliau dakwahkan untuk disembah. Untuk tujuan tersebut, surat ini diturunkan kepada beliau. Dalam surat ini, pada ayat pertama, disampaikan bahwa Tuhan yang mereka tanyakan itu adalah Allah al-Ahad, yang Maha Esa. Terkait makna al-Ahad, Ibnu Katsir memaparkan bahwa “Dia-lah al-Wahid al-Ahad, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki pembantu, tanpa sekutu, serta tidak ada yang serupa dan sepadan dengan-Nya [Tafsir Ibn Katsir : 8/527].
Pada ayat berikutnya ditegaskan bahwa Allah adalah ash-Shamad, yaitu Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Mengingat Allah senantiasa berada dalam kesibukan sebagaimana dinyatakan dalam surat ar-Rahmaan ayat 29, adalah tepat jika Allah memiliki nama ash-Shamad , nama yang memiliki cakupan makna yang sangat luas karena memiliki arti as-Sayyid, yang dijadikan tujuan atau sandaran, dan tidak ada seorang pun yang berada di atas-Nya [Jaami’ al-Bayaan fii Takwiil al-Quraan 24/692].
Lebih lanjut pada ayat ketiga Allah berfirman (yang artinya), “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan”. Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada anak yang dilahirkan dari-Nya. Demikian pula Allah tidaklah lahir dari sesuatu apa pun. Kemudian surat ini diakhiri dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” untuk memperkuat karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa tentu menuntut penafian (peniadaan) keberadaan sesuatu yang setara dengan-Nya.
Gambaran tentang Tauhid
Meskipun hanya terdiri dari empat ayat, namun kandungan yang terdapat dalam surat ini teramat padat karena pondasi keimanan kepada Allah dijelaskan secara lugas dan tegas. Selain tentang keesaan Allah, di dalamnya juga disampaikan kandungan bahwa keesaan Allah menuntut pengesaan terhadap-Nya atau yang lazim dikenal dengan tauhid. Hal ini merupakan konten atau muatan dakwah yang senantiasa disampaikan oleh seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah Ta’ala [lihat QS. Al-Anbiya : 25 dan asy-Syura : 23].
Di awal surat pada ayat pertama, secara tegas dinyatakan bahwa Allah Ta’ala adalah al-Ahad, Yang Mahaesa, tidak berbilang sebagaimana keyakinan kaum musyrikin. Dan karena keesaan-Nya itulah Allah semata yang patut dan layak dijadikan sesembahan bukan yang lain. Abu Bakr al-Jazaairi rahimahullah mengatakan, “Rabb-ku adalah Allah, satu-satunya sesembahan yang berhak ditujukan segala bentuk penghambaan dan peribadatan. Esa dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Dengan demikian, tidak ada yang serupa dan sepadan dengan-Nya dalam hal tersebut karena Dia-lah Sang Pencipta dan Pemilik segala sesuatu di alam ini. Tidaklah patut sesuatu yang diadakan dan diciptakan memiliki kedudukan seperti Pencipta-nya. Dan Pencipta mereka adalah Allah, al-Ma’bud, satu-satunya Dzat yang berhak disembah” [Aisaar at-Tafaasir 5/628]. Oleh karenanya, pada ayat kedua dinyatakan bahwa Allah adalah ash-Shamad yang berarti Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Seluruh makhluk di langit dan di bumi memanjatkan permohonan kepada diri-Nya untuk dikabulkan. Keberadaan berbagai sesembahan selain-Nya yang memiliki ketidaksempurnaan, kelemahan, dan sifat ketergantungan menunjukkan bahwa mereka semua tidak layak untuk disembah. Berbagai sesembahan tersebut pada hakikatnya merupakan makhluk yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan sebagaimana kekuasaan dan kemampuan yang dimiliki Allah. Bahkan Allah lah yang Maha Kuasa menciptakan mereka dan menangani berbagai kebutuhan hamba.
Keesaan Allah juga ditegaskan dalam ayat ketiga dan ayat keempat ketika dinyatakan bahwa Allah tidak mengangkat seorang anak pun, tidak pula menjadi anak bagi selain-Nya, dan bahwa tidak ada seorang pun yang sama, sepadan, sebanding, setara dengan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Hal tersebut menjadi bukti yang semakin mendukung bahwa hanya Tuhan yang memiliki sifat tersebut yang layak menjadi tujuan dalam segenap peribadahan.
Keesaan Allah dan perkara tauhid merupakan pondasi keimanan dan perkara yang mendasar dalam Islam. Hal tersebut telah dijelaskan dengan gamblang dan lugas dalam surat al Ikhlash. Siapa pun yang menyelisihi ketentuan yang terdapat dalam surat ini maka ia telah mengingkari keesaan Allah, sehingga terjatuh dalam kekufuran atau kesyirikan.
Gambaran Berbagai Keyakinan yang Mengingkari Keesaan Allah
Al-Quran banyak memberitakan berbagai keyakinan yang bertentangan dengan keesaan Allah, khususnya yang bertentangan dengan tauhid. Di antara keyakinan tersebut adalah :
  1. Anggapan Tuhan lebih dari satu
Dalam al-Quran surat al-Anbiya ayat 22, Allah berfirman membantah sebagian keyakinan kaum musyrikin bahwa di alam ini terdapat Tuhan yang memiliki kekuasaan setara dengan Allah. Allah berfirman (artinya), “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan” [al-Anbiya : 22]. Diterangkan oleh al-Qurthubiy dalam tafsirnya bahwa jika di langit dan di bumi ini terdapat dua tuhan, maka tentu seluruh pengaturan alam semesta akan rusak binasa dikarenakan adanya kemungkinan timbul dua keinginan yang berlawanan dari dua tuhan tersebut. Ketika salah satu keinginan tercapai, maka tuhan yang lain terkalahkan, lemah [al-Jaami’ li Ahkaam al-Quraan 11/279]. Adakah tuhan yang benar itu lemah karena keinginannya dikalahkan oleh keinginan tuhan yang lain? Anggapan semacam inilah yang dibantah Allah sehingga di akhir ayat Dia menutup firman-Nya dengan tanzih (penyucian) untuk memberitakan bahwa Dia tidak memiliki sekutu yang setara dengan diri-Nya.
  1. Anggapan Tuhan memiliki atau mengangkat anak
Allah memberitakan bahwa di antara keyakinan kaum musyrikin adalah Tuhan memiliki atau mengangkat anak. Di antara mereka ada yang berkeyakinan bahwa malaikat itulah anak Tuhan, sebagian yang lain berkeyakinan orang shalih atau rasul adalah anak Tuhan. Padahal keyakinan seperti itu adalah suatu kedustaan. Allah telah berfirman akan hal itu dalam surat al-An’aam ayat 100 (artinya), “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” Ath-Thabariy mengatakan, “Mereka menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah dalam peribadatan mereka. Padahal Allah sendiri yang menciptakan mereka tanpa keberadaan suatu sekutu, pembantu, dan penolong. Mereka berbuat kedustaan terhadap Allah dengan mengadakan bagi Allah anak laki-laki dan perempuan tanpa mengetahui hakikat perkataan mereka. Semua itu berangkat dari kebodohan mereka terhadap Allah dan keagungan-Nya. Tidaklah patut bagi Tuhan memiliki anak laki-laki dan perempuan, tidak pula patut memiliki istri, tidak pula patut bagi-Nya seorang yang bersekutu dalam mengatur ciptaan-Nya” [Jaami’ al-Bayaan fii Takwil al-Quraan 11/10].
Ada yang beranggapan kedekatan sebagai “anak Allah” melatarbelakangi keyakinan bahwa mereka memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya, dan mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)” [al-Maaidah : 18]. Latar belakang mengapa mereka berkata bahwa diri mereka adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya dikemukakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, yaitu :
  1. Mereka berkata demikian karena berpandangan bahwa mereka adalah orang-orang yang dekat kepada Allah seperti kedekatan orang tua dengan anaknya,
  2. Mereka berkata demikian bahwa mereka adalah pengikut-pengikut anak-anak Allah karena sebagaimana diketahui bahwa Yahudi berkeyakinan bahwa Uzair adalah anak Allah seperti keyakinan Nashrani yang berkata Isa adalah anak Allah, atau
  3. Mereka berkata demikian karena keliru dalam memahami perkataan “anak” dan kekasih” yang terdapat dalam kitab-kitab suci mereka.
Apapun yang melatarbelakangi hal tersebut, ayat di atas membantah kedustaan mereka yang bertujuan untuk membenarkan kesesatan dan kekafiran yang mereka kerjakan.
Khusus terkait kekeliruan Yahudi dan Nasrani dalam memahami kata “anak” yang terdapat dalam kitab suci mereka, maka Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketika Allah berfirman kepada hamba-Nya, Israil, “Engkau adalah anakku dari seorang perawan”, kaum Yahudi telah menafsirkannya dengan tafsiran yang tidak pada tempatnya sehingga mereka pun menyimpangkannya. Mereka telah dibantah oleh orang-orang Yahudi yang masuk Islam dan berakal sehat bahwa ungkapan tersebut digunakan sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan.
Hal ini seperti kaum Nashrani yang mengutip perkataan Isa di kitab suci mereka ketika berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi kepada bapakku dan bapak kalian”. Kata “bapak” yang dimaksud memiliki arti Rabb (Tuhan). Sehingga arti perkataan Isa tersebut adalah “…Rabb-ku dan Rabb kalian”. Telah maklum, bahwa kaum Nashrani tidak mengklaim sebagai anak Tuhan untuk diri mereka sendiri sebagaimana klaim mereka terhadap Isa ‘alaihissalam bahwa beliau adalah anak Tuhan [Tafsir Ibn Katsir 3/68-69].
Kitab Suci Samawi Turut Mendukung Keesaan Allah
Telah disebutkan bahwa tauhid merupakan seruan setiap nabi dan rasul. Oleh karena itu, meski diyakini bahwa isi dari kitab-kitab samawi terdahulu telah mengalami penyimpangan, namun terdapat beberapa dalil yang membenarkan keesaan Allah, menyatakan ajaran tauhid, dan memperingatkan akan kesyirikan berupa penyembahan kepada selain Allah.
Di antara dalil dari kitab suci samawi lainnya yang membenarkan hal tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Dalam Kitab Ulangan 4:35 disebutkan, “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhan adalah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia”;
  2. Dalam kitab yang sama, pada bagian 6:4 disebutkan, “Dengarlah, hai orang Israil : “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Mahaesa”;
  3. Dalam Injil Matius 4:10 disebutkan, “Maka berkatalah Yesus (Isa) kepadanya: “Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis : engkau harus menyembah Tuhan, Allah-mu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau beribadah!” Hal yang serupa termaktub dalam Injil Lukas 4/8;
Semoga tulisan yang singkat ini dapat menambah keyakinan kita terhadap keesaan Allah. Sehingga kita dapat mentauhidkan-Nya hingga akhir hayat kita, serta dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada-Nya. Aamiin.
Penulis : Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)